<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>essence</title>
	<atom:link href="http://sinergi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sinergi.wordpress.com</link>
	<description>tempat dimana pemikiran dan gagasan serta ide ide dan beberapa catatan saya akan suatu hal yang mencuri perhatian saya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Jan 2011 18:59:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sinergi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>essence</title>
		<link>http://sinergi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sinergi.wordpress.com/osd.xml" title="essence" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sinergi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Your Birthday</title>
		<link>http://sinergi.wordpress.com/2011/01/02/your-birthday/</link>
		<comments>http://sinergi.wordpress.com/2011/01/02/your-birthday/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 18:59:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>octavero</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergi.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[“Halah!… ternyata ketikanku dari tadi tuh belum ku save to?..” sebuah kalimat pembuka yang aneh untuk sebuah artikel, wkwkwkwk. Tapi tak apalah, toh juga tidak menciutkan niatku untuk meneruskan menulisnya. Beberapa waktu yang lalu, ketika nongkrong di sebuah warung “wedangan” di pojokan pertigaan purwosari solo, saya dikejutkan oleh sebuah berita yang tidak pernah sekalipun terlintas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=21&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Halah!… ternyata ketikanku dari tadi tuh belum ku save to?..” sebuah kalimat pembuka yang aneh untuk sebuah artikel, wkwkwkwk. Tapi tak apalah, toh juga tidak menciutkan niatku untuk meneruskan menulisnya.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, ketika nongkrong di sebuah warung “wedangan” di pojokan pertigaan purwosari solo, saya dikejutkan oleh sebuah berita yang tidak pernah sekalipun terlintas di kepala untuk saya pikirkan. Berita yang menyebutkan bahwa salah satu sahabat saya, istrinya sudah melahirkan anak lelaki dengan berat 28 gram. Tapi berita yang terdengar itu hanya sekedar membuat saya terkejut saja… ya! … hanya terkejut, habis itu sudah ganti topik pembicaraan lainnya. Seperti “hanya lewat” dalam sebuah permainan monopoli.</p>
<p>Malam berikutnya, kembali saya menuju pertigaan purwosari untuk mencari teman ngobrol, sekaligus mengisi waktu untuk menanti datangnya rasa kantuk yang belum juga menghampiri. Dan kebetulan disana saya bertemu dengan narasumber yang menjadi topik pembicaraan di malam sebelumnya yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat saya sendiri, dengan kondisi yang terlihat sedikit kecapekan tetapi masih belum kehilangan siratan cercah kelegaan pasca kelahiran putra pertamanya. Dengan senyum saya hampiri, ucapkan selamat dan dimulailah proses mengobrol meskipun mulutnya dia dipenuhi dengan jejalan “sego kucing” dan sedang dilahap dengan lezatnya plus tersungging senyum yang mendominasi ekspresinya. Ditemani oleh segelas teh kampul panas dengan takaran gula setengah sendok teh, terlantunlah kronologi kelahiran putra pertama sahabat saya. Senda gurau serta tawa, lepas semua malam itu, mengingat bahwa itu adalah pengalaman pertamanya menghadapi proses kelahiran yang tentu saja dipenuhi dengan segala kecanggungan, kepanikan dan tindakan tindakan konyol yang tidak perlu. Namun disatu sisi, salut dari kami semua untuk peristiwa ini karena semua berjalan dengan lancar dan sudah melewati detik detik yang menegangkan, mengingat kami yang berkumpul malam itu didominasi oleh para jomblo jomblo yang belum mengalaminya.</p>
<p>Dari obrolan di pertigaan purwosari tersebut memberi saya inspirasi untuk menuliskan sebuah artikel yang sedang anda baca saat ini, Dan sebenarnya ingin saya release pada peringatan hari ibu. Berhubung ternyata inspirasi datangnya lebih lambat dari waktu yang ditargetkan, ya mohon dimaklumi. Hehehehe……</p>
<p>Sering kita melihat, menyaksikan, bahkan turut serta dalam suatu perayaan pesta ulang tahun. Entah itu pesta ulang tahun kerabat maupun teman, pasti semua mengalami ber-ulang tahun meskipun kadang kala tanpa pesta ataupun wujud perayaan lainnya dikarenakan kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan. Mungkin sebagian dari pembaca sudah mengetahui, tapi banyak juga yang tidak menyadari apa sebenarnya yang terjadi dibalik hari kelahiran kita di dunia ini.</p>
<p>Kadang kala ketika kita berulang tahun, seakan akan hanya menjadi suatu rutinitas setahun sekali, dan pesta maupun acara makan makan hanyalah merupakan suatu konsekuensi bagi siapapun yang merayakannya, tanpa pernah mau berpikir ataupun mencoba menyadari perjuangan seorang ibu menahan sakit, bertahan untuk menghindari makanan- makanan yang tidak dianjurkan, keterbatasan gerak, menghadapi dilema pengambilan keputusan untuk memilih caesar atau normal yang masing masing juga memiliki konsekuensi sendiri sendiri dalam waktu yang sangat terbatas, banyaknya tekanan yang diakibatkan oleh kemungkinan membengkaknya biaya persalinan, maupun pertaruhan hidup dan mati yang ditanggung oleh ibu dan si anak itu sendiri, ada dibaliknya. Bisakah anda bayangkan situasi pada waktu itu? Tegang.. itu yang pertama kali muncul dalam pikiran saya, lalu berturut turut muncul kilasan ekspresi wajah kesakitan seorang ibu, darah yang belepotan di area ranjang persalinan, teriakan teriakan penuh perjuangan yang membuat para suami selalu gentar mendengarnya. Dari situ pelan pelan saya tarik garis hubungan dan lambat laun logika saya bekerja, sebenarnya untuk siapakah kita berulang tahun? Mungkin pertanyaan itu jawabannya bernara sumber pada yang berulang tahun, tetapi ada baiknya pula, bila dimanfaatkan sebagai suatu momentum untuk menghormati perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anak mereka. Sehingga birthday dapat meraih multipurpose yaitu perayaan diri kita terlahir ke dunia dan momentum untuk menghormati seorang ibu pada khususnya serta orang tua pada umumnya.</p>
<p><a href="http://sinergi.files.wordpress.com/2011/01/babypreview.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-22" title="babypreview" src="http://sinergi.files.wordpress.com/2011/01/babypreview.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p><strong>Sebuah pertaruhan</strong></p>
<p>Tahukah anda seperti apakah rasa, selama sembilan bulan sepuluh hari mengandung anak, selama kurang lebih dua minggu penyembuhan dari persalinan normal maupun kurang lebih sebulan pemulihan diri pasca persalinan caesar? Bagi para ibu ibu pasti dengan mudah membayangkan, tetapi bagi para pria maupun para wanita yang belum mengalami proses ini pasti tidak mampu membayangkan, karena hanya yang bersangkutan sendirilah yang mampu menggambarkan dengan pasti seperti apakah rasanya.</p>
<p>Majunya dunia kedokteran bukan merupakan jaminan bahwa proses kelahiran seorang anak ke dunia akan lancar, salah satunya dibuktikan dengan betapa tetap tingginya pressure yang dialami oleh anggota keluarga yang bersangkutan meskipun proses kelahiran dilangsungkan di sebuah rumah sakit yang terkenal baik. Percaya atau tidak, hal itu terjadi. Jadi bila kita lihat sedikit lebih jauh ke belakang, pada saat kita dilahirkan sebenarnya terjadi dalam hitungan waktu yang cukup singkat diluar waktu dalam kandungan, tetapi yang terjadi dalam waktu yang singkat itu ada banyak masalah yang sifatnya kompleks meliputi berbagai faktor seperti yang sudah saya tuliskan di paragraf atas, dan itu bagi yang bertanggung jawab, dalam hal ini orang tua, kompleksnya permasalahan bertumpuk tumpuk, dan dalam keadaan yang diliputi ketegangan dan kepanikan, masalah yang bertumpuk tersebut kadang malah menjadi acak dan tidak rasional. Sehingga situasi ini bukan hanya menjadi peristiwa yang terkotak pada ayah dan ibu si jabang bayi saja, tetapi juga melibatkan seluruh anggota keluarga yang berkepentingan.</p>
<p>Sebuah pertaruhan hidup dan mati. Bagi mereka yang merasakan dan ada dalam proses persalinan tahu benar konsekuensi dan betapa berkemelutnya segala macam jalinan pikiran di ruang pikir dalam batas kesadaran. Terlebih lebih yang dirasakan oleh seorang figur calon ayah. Orang jawa bilang “deg deg-an” yang mana jantung bekerja lebih keras dari biasanya, dimulai semenjak calon ibu merasakan kehadiran seorang bayi dalam perutnya. Akan sangat tampak betapa gusarnya suasana hati seorang calon ayah pada saat detik detik mendekati kelahiran si jabang bayi, sudah tidak lagi bisa berpikir jernih. Berbagai kekhawatiran mendominasi ruang pikirnya, baik terhadap keselamatan ibu maupun keselamatan jabang bayi.</p>
<p><a href="http://sinergi.files.wordpress.com/2011/01/0212-baby_21-784427.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-23" title="0212-baby_21-784427" src="http://sinergi.files.wordpress.com/2011/01/0212-baby_21-784427.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><strong>Perjalanan Waktu</strong></p>
<p>Jabang bayi telah terlahir ke dunia, peran aktif orang tua sangat besar dalam pembentukan karakter anak, dan jabang bayi tumbuh besar mewarisi gen gen dari orang tuanya.</p>
<p>Waktu berjalan, tahun demi tahun berlalu, anak tak lagi menjadi jabang bayi, otaknya tumbuh dan bekerja, akal budi berkembang, dan semakin memantapkan dirinya serta memperlihatkan eksistensinya sebagai manusia.</p>
<p>Dalam perkembangannya, si anak belajar. Termasuk mempelajari lingkungan tempat ia dibesarkan. Ia tidak diam. Ia belajar, termasuk mengamati kedua orang tuanya. Dan selama belajar itu, ia akan semakin mampu membedakan yang benar dan yang salah dari berbagai sumber. Dikarenakan anak memiliki orang tua, kebanyakan ia memperoleh bekal menghadapi hidup dari orang tua yang notabene berada paling dekat dengan eksistensi si anak. Meskipun dalam beberapa kasus kita jumpai anak anak yatim piatu, maupun anak anak yang dititipkan dalam panti asuhan dan terpisah dengan orang tua sejak kecil karena berbagai sebab, adalah pengecualian. Tetapi memiliki esensi yang sama, yang mana anak dilahirkan bukan tanpa perjuangan, melainkan juga dengan pertaruhan kehidupan yang kompleks. Anak yang didik dalam lingkungan berorang tua mengamati ayah dan ibunya secara langsung, hingga ia mampu mengenali hal hal positif dan negatif orang tuanya. Begitu juga mereka yang yatim piatu, akan terus mencari jawaban terhadap eksistensi orang tuanya dengan segala keterbatasan informasi yang ia miliki. Dari hal ini anak akan mendapatkan resume mengenai orang tuanya dalam perjalanan waktu kehidupannya hingga ia mengenal orang tuanya lebih jauh. Terutama pada figur seorang ibu.</p>
<p>Hubungannya adalah, bahwa seburuk apapun sifat dari ibu yang anda ketahui, dia tetap seorang ibu bagi si anak yang telah dilahirkannya ke dunia dengan dikandung selama rata rata sembilan bulan sepuluh hari (variatif) yang kadang kadang selama proses mengandung jabang bayi, terlantun untaian doa serta harapan harapan dari orang tua pada calon anaknya. Apapun yang telah dilakukan seorang ibu terhadap anaknya, selalu ada alasan yang mengikuti dibelakangnya. Dan itu menjadi suatu pekerjaan abadi bagi kita sebagai anaknya untuk menguraikan simpul itu sendiri.</p>
<p><a href="http://sinergi.files.wordpress.com/2011/01/amcbaby.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-24" title="amcbaby" src="http://sinergi.files.wordpress.com/2011/01/amcbaby.jpg?w=275&#038;h=300" alt="" width="275" height="300" /></a></p>
<p><strong>Ungkapan terima kasih</strong></p>
<p>Terus terang saja, baru kali ini saya menemukan korelasinya, dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Oleh karenanya tidak salah apabila kita menyempatkan sepersekian waktu di hari ulang tahun untuk mengucapkan terima kasih pada ibunda tercinta, entah itu dalam bentuk sebuah ciuman antara anak kepada ibu, maupun pelukan, boleh juga sebuah permintaan maaf atas kedurhakaan kita selama ini dan atas kesoktahuan kita selama ini, mau dengan suatu ekspresi tangis dan sedu sedan pun juga oke, lebih baik lagi bila ditambah doa untuk orang tua. J</p>
<p>Akhir kata, bukan maksud penulis untuk menyalahkan para pelaku ulang tahun yang tak pernah menyadari hal ini, tapi hanya sekedar memberikan masukan dan tambahan pengetahuan agar setidaknya tiap aktifitas dijalani dengan penuh kesadaran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sinergi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sinergi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sinergi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sinergi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sinergi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sinergi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sinergi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sinergi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sinergi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sinergi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sinergi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sinergi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sinergi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sinergi.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=21&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergi.wordpress.com/2011/01/02/your-birthday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1bc86fb0f5aa6bfa57201a958630ccf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">octavero</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sinergi.files.wordpress.com/2011/01/babypreview.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">babypreview</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sinergi.files.wordpress.com/2011/01/0212-baby_21-784427.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">0212-baby_21-784427</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sinergi.files.wordpress.com/2011/01/amcbaby.jpg?w=275" medium="image">
			<media:title type="html">amcbaby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesadaran dan Akal budi</title>
		<link>http://sinergi.wordpress.com/2010/12/28/kesadaran-dan-akal-budi/</link>
		<comments>http://sinergi.wordpress.com/2010/12/28/kesadaran-dan-akal-budi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Dec 2010 05:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>octavero</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela pengetahuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergi.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Mengagumkan, itu yang dapat disimpulkan bila kita mengamati apa yang disebut sebut sebagai kesadaran. Dahulu orang mengira bahwa melakukan penelitian yang berkaitan dengan kesadaran dianggap membuang buang waktu, dan bukan merupakan suatu derajat keilmuan yang bisa disebut dan dibuktikan secara ilmiah. Seiring dengan berjalannya waktu, seakan akan perjalanan sains menjadi semakin terbalik dari statement statement [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=17&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengagumkan,</p>
<p>itu yang dapat disimpulkan bila kita mengamati apa yang disebut sebut sebagai kesadaran. Dahulu orang mengira bahwa melakukan penelitian yang berkaitan dengan kesadaran dianggap membuang buang waktu, dan bukan merupakan suatu derajat keilmuan yang bisa disebut dan dibuktikan secara ilmiah.</p>
<p>Seiring dengan berjalannya waktu, seakan akan perjalanan sains menjadi semakin terbalik dari statement statement yang pernah dikemukakan pada jaman dahulu.</p>
<p>Teori teori yang berkaitan dengan kesadaran jaman dahulu selalu dibantah oleh ilmuwan ilmuwan yang hidup kala itu, namun sekarang yang terjadi adalah sebaliknya. Para ilmuwan mati matian mencari cara sains yang paling ilmiah dan logis untuk membuktikan dan meneliti apa yang kita sebut sebagai suatu kesadaran. Dan selalu saja ketika telah ditemukan suatu metoda yang satu akan selalu diketemukan lagi suatu pengetahuan baru yang ternyata, membuat para ilmuwan berkesimpulan, bahwa ternyata penelitian yang dilakukan hingga saat ini masih terlampau kecil dibanding segala rahasia besar yang tersimpan dalam suatu kesadaran.</p>
<p>Bertahun tahun para ahli, ilmuwan, filsuf berupaya keras menyingkap takbir yang tersembunyi di balik kesadaran dan kinerja akal budi. Dan hingga sekarangpun masih dilakukan continuous research yang mendalam. Kita sebagai manusia mengetahui dan sadar bahwa kita memiliki dan bisa menyebut itu sebagai kesadaran, tetapi manusia juga belum bisa membuktikan secara ilmiah kebenaran statement tersebut. Aneh bukan?</p>
<p>Penelitian yang dilakukan hingga saat ini menghasilkan suatu metoda fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) atau lebih biasa disebut pindai aktifitas otak. Dan masih sebatas pindai aktifitas otak yang hanya bisa membuktikan sebagian kecil teori teori yang berhubungan dengan aktifitas aksi reaksi dan pembuktian terhadap perbedaan perlakuan pada otak dengan implikasi yang ternyata jauh dari dugaan para ahli, itupun belum bisa mengungkap kinerja kesadaran dan kebenaran dalam rahasia akal budi. Termasuk juga eksperimen dengan melakukan bedah otak dan perlakuan ujicoba dengan kejutan elektrik, yang mana didapatkan suatu pengetahuan bahwa respon ternyata terlambat setengah detik dari sejak diterima suatu rangsang. Begitu pula dengan penemuan anestesi (pembiusan) yang secara nyata telah menunjukkan hubungan dan keterkaitan erat antara tubuh dengan kesadaran maupun akal budi.. J…. Luar biasa. Ternyata para ahli sudah meneliti sejauh itu tetapi masih jauh dari besarnya rahasia dalam kesadaran kita.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sinergi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sinergi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sinergi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sinergi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sinergi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sinergi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sinergi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sinergi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sinergi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sinergi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sinergi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sinergi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sinergi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sinergi.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=17&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergi.wordpress.com/2010/12/28/kesadaran-dan-akal-budi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1bc86fb0f5aa6bfa57201a958630ccf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">octavero</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>catatan ringan</title>
		<link>http://sinergi.wordpress.com/2010/01/05/catatan-ringan/</link>
		<comments>http://sinergi.wordpress.com/2010/01/05/catatan-ringan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 17:47:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>octavero</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergi.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Hmm…. Kulitku mengeriput, persendian terasa kaku untuk digerakkan, beberapa batang rokok sudah habis kuhisap… telapak kaki terendam genangan air …dan semilir angin basah mendarat dengan sempurna di sekujur tubuh saya…. Dingin dan berangin… Hujan yang mengguyur kota kecil ini deras sekali, angin kencang yang menyertainya menampar tanaman tanaman hingga memporak porandakan dedaunan yang sudah menguning [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=13&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hmm…. Kulitku mengeriput, persendian terasa kaku untuk digerakkan, beberapa batang rokok sudah habis kuhisap… telapak kaki terendam genangan air …dan semilir angin basah mendarat dengan sempurna di sekujur tubuh saya…. Dingin dan berangin…  Hujan yang mengguyur kota kecil ini deras sekali, angin kencang yang menyertainya menampar tanaman tanaman hingga memporak porandakan dedaunan yang sudah menguning dan mengering jatuh berserakan di atas jalanan hingga membuat siapapun yang memandang berkesimpulan “kota yang kotor..ck ck ck….”.   Ditemani sebatang rokok terakhir dari saku di celana yang baru disulut, beberapa orang yang juga turut berteduh, serta sedikit hiruk pikuk tuan rumah untuk memasang deklit agar angin tak masuk ke dalam warung yang berukuran tidak cukup besar, 2 x 4 meter, terlintas dipikiran saya bahwa seperti inikah rasanya kendala yang bakal dihadapi bila suatu saat nanti saya berpikiran untuk membuka sebuah usaha warung makan kecil kecilan di pinggir jalan.  Kebetulan warung tempat saya berteduh ini dimiliki oleh sepasang bapak dan ibu yang berusia masih cukup muda, sekitar 30 tahunan. Belum tua tetapi juga sudah tidak muda pula… ketika saya iseng bertanya sekedar untuk memecah keheningan, dapat saya ambil informasi bahwa mereka memulai usaha ini belum lama, kira kira dua tahun lalu dengan modal awal yang sangat kecil, meskipun dari obrolan kami dapat pula saya ambil kesimpulan bahwa mereka memulai bisnis di sektor kuliner ini atas dasar “kepepet”. Si bapak sendiri adalah seorang jebolan buruh pabrik di jakarta dan si ibu sendiri mantan buruh pabrik di kota kecil ini (mohon maaf bila identitas kota kecil ini tidak saya perlihatkan karena hal dan lain hal yang memberatkan saya untuk menuliskannya di dalam catatan ringan ini). Ketika mereka berdua mengambil keputusan untuk menikah dan beberapa waktu sesudahnya dikeluarkan dari pabrik masing masing akibat imbas runtuhnya perekonomian amerika yang santer diberitakan oleh media massa tempo lalu, plus ditambah dengan kehadiran putri pertama dalam kehidupan rumah tangga mereka, memaksa mereka untuk memeras otak guna bertahan. Dan walhasil, berdirilah sebuah warung kecil di pinggir jalan.  Tampilan secara umum tidaklah mengecewakan, lebih terkesan bersih meskipun warung ini lebih tepat disebut warung wedangan degan ciri khas banyak bungkus nasi yang berserakan dibawah meja yang kadang kadang dihuni oleh bangsa nyamuk maupun insekta insekta lainnya. “Limbah” hal pertama yang musti saya cermati bila suatu saat nanti jadi membuka warung sendiri hahahaha…. Yang kedua adalah gejala alam yang barusan saya alami, hujan serta angin, di luar bencana semacam gempa bumi, topan, angin puting beliung dan lainnya.  Separuh batang rokok sudah menjadi abu dalam perbincangan kami yang sesekali disertai gelak tawa, karena memang pada dasarnya si pemilik warung ini adalah orang yang ramah dan terkesan lugu sehingga mudah bagi saya untuk memancing tawa dalam perbincangan kami. Di depan saya terbentang deretan macam camilan yang berderet teratur di tengah tengah meja saji terlihat ramai dan berjubel serta terkesan kapasitas meja saji telah habis terisi oleh ragam camilan, sehingga hanya tersisa sedikit area untuk para pengunjung warung menikmati makan nasi mereka sambil duduk santai dengan sedikit was was akan kemungkinan gelas jatuh karena posisinya yang terlalu dekat dengan bibir meja.  Hujan masih sangat deras dan angin sangat kencang sehingga membuat kondisi dalam warung basah, tetapi pak pemilik warung ini sudah menyiapkan langkah yang cukup antisipatif yaitu dengan merentangkan selambar plastik yang cukup panjang sehingga mampu menutupi seluruh area camilan camilan diatas meja dan itu selalu ia kerudungkan di atas deretan camilan baik dalam keadaan hujan maupun cerah. Dari pengamatan saya masih tetap saja terdapat kekurangan disana sini yang menurut saya cukup wajar. Seperti pengaturan posisi meja racik yang sudah kepalang basah kuyub karena ternyata tidak terlindungi ketika angin yang sangat keancang menerobos masuk ke dalam sehingga membuat beberapa bahan bahan racikan sudah tidak dapat dipakai karena sudah basah dan kemungkinan berkuman, hal ini disebabkan karena posisi meja racik berada terpisah dengan meja saji dan berada di bagian pinggir warung yang mana menempel tepat dengan dindingnya yang terbuat dari sebuah deklit kain, bukan deklit plastik yang memantulkan tetesan air.   Cerita demi cerita terlantunkan dari si bapak yang usianya terpaut tidak jauh beda dengan saya, dipaksa oleh keadaan, untuk dapat bertahan dan melalui hari demi hari dengan tidak banyak mengeluh. Cerita mengalir mulai dari bagaimana keadan dia ketika masih bekerja di suatu pabrik kertas yang mana didominasi bahan kimia berbahaya serta rentan terhadap penyakit dalam maupun kulit, memang tidak sedahsyat cerita “marsinah” yang dilantunkan melalui monolog ratna sarumpaet dari kelompok satu merah panggung, tetapi sudah cukup bagi saya untuk terlalu sering mendengar cerita kaum buruh mengenai perjuangan mereka, dengan inti yang relatif sama – menuntut keadilan dan penghargaan sebagai manusia yang pantas. Bapak ini hanya seorang tamatan smp dan sudah beberapa kali pindah pindah dari satu pabrik ke pabrik lain di tanah jawa. Hingga menjadi kurir suatu perusahaan sehingga waktunya habis di jalan dan uang gajinya yang selalu impas di akhir bulan. Mungkin karena banyaknya peristiwa dan pengalaman batin yang tertempa dengan sendirinya membuat si bapak ini sabar dan selalu berpikir panjang ketika diharuskan mengambil keputusan. Terlantun pula proses si bapak jatuh hati pada istrinya ini hingga akhirnya mengambil keputusan menikah dengan berani meski dalam pemaparan yang cukup singkat disertai canda tawa. Teh panas yang saya pesan telah menjadi hangat, cukuplah untuk menghangatkan badan plus sebatang rokok terakhir yang luar biasa nikmatnya. Kini istrinya mengandung anak kedua dan mereka tampak biasa saja, tampak seperti mampu menghidupi kedua anaknya dengan berkecukupan, seperti tidak mengeluh akan kondisinya saat ini, begitu apa adanya dan menerima apa yang ada dengan ikhlas…. Luar biasa and that’s the key.. hmm fill empty space in my briefcase of arguments. Yups… seperti itulah kira kira beberapa kendala yang mereka hadapi, dan mereka harus siap itu. Essence of survive dalam cara pandang yang berbeda.  Seorang bapak yang sepantasnya dipanggil kakek turut nimbrung dalam perbincangan… meski topik yang ia bicarakan sedikit tidak berhubungan dengan topik perbincangan kami berdua, tetapi ya memang begitulah adanya khas obrolan warung wedang yang buka di sore menjelang maghrib, buka hingga larut dan tutup bila dagangan sudah ludes terjual, obrolan bebas. Kakek itu lebih akrab bila kami panggil dengan sebutan “mbah” dengan logat bahasa jawa yang kental. Menghadirkan nuansa obrolan dengan spektrum baru dan sedikit berbeda, bagaimana ia bercerita ketika masa mudanya, bagaimana ia mambandingkan kehidupan masa kini dengan masa mudanya, bagaimana ia menyanjung saya karena menurutnya wajah saya termasuk wajah yang digemari para wanita hahahaha……tidak habis pikir saya… lompatan obrolan yang membuat saya spontan terpingkal pingkal, tentang agama terutama islam…, tentang laju sejarah, tentang masa dimana ia teringat akan masa ratu inggris queen victoria / elisabeth (saya agak agak lupa yang mana hehehe) yang masih sedikit turut campur memegang kendali atas negeri ini… meskipun saya tak yakin benar apakah itu relevan dengan sejarah yang sebenarnya atau tidak, tapi itu bukan suatu masalah bagi saya, karena memang pada umumnya mereka yang berusia tua inginnya didengarkan dan di iya kan… mungkin lebih ke arah ancient javanesse absolutism character. Begitu bersemangatnya si simbah ini bercerita hingga merasa bahwa kiranya dia sudah cukup dekat dan mengenal kami berdua, bahkan pada akhir perbincangannya ketika mau pamit menawarkan untuk membayari saya, dan tentu saja saya menolak dengan halus dan sopan. Usianya sudah cukup tua berkisar antara tujuh puluhan tetapi masih mampu berjalan jauh, kadang berkendara dengan sepeda, mencari kerumunan dan aktifitas untuk mengusir kesendiriannya, kini hidup sendiri, mungkin bila dirumah ia selalu ditemani dengan berbatang batang rokok… tapi cukup sehat. Teh hangat sudah mulai terasa dingin karena percepatan pendinginan akibat pengaruh perbedaan suhu luar yang terlalu jauh dan bara rokok sudah mulai mendekati pangkalnya. Ada hal yang cukup menarik dari perbincangan kami, dibalik wataknya yang kadang kolot dan keras, ada nuansa lembut serta aspek “bebrayan” yang masih terkonsep dengan matang di usianya yang sudah mendekati tujuh puluhan. Sebenarnya topik yang saya bicarakan disini bukanlah hal besar, hanyalah hal hal kecil yang menarik minat saya untuk mencari tahu. Bagaimana ia salalu bisa tampil dengan matang dan mampu untuk menjalin connected communication dengan kami yang masih muda, sehingga terbersit pemikiran saya “apakah suatu saat nanti ketika saya sudah berumur juga bisa seperti itu? Ataukah hanya diam di rumah menanti dimanja oleh anggota keluarga? Atau malah terbaring lemas dengan badan yang tak lagi kuat plus penyakitan?” and that will be my own homeworks….  Seakan menjadi budaya baru bagi warga kota ini untuk sekedar menikmati obrolan bebas di warung wedang dalam keheningan malam, sengaja menjauhkan diri dari rutinitas harian, serta memanjakan perut dengan ragam camilan dan minuman yang ditawarkan.   Rokok sudah habis terhisap dan hujan juga belumlah memperlihatkan tanda tanda untuk reda, maka dengan segara saya putuskan untuk meminjam payung yang tadi sempat dipakai untuk berhiruk pikuk memasang deklit dan saya ambil jas hujan di atas jok motor saya. Dan pulang kembali dengan celana pendek yang ternyata basah terkena cipratan air hujan.  Sebuah potret kehidupan keluarga kecil dalam berjuang untuk menghidupi dirinya. Terkesan indah, karena perjuangan yang telah mereka tempuh membuahkan hasil yang meski tak seberapa tapi cukup untuk melengkapi syarat bertahan dalam kompetisi kehidupan. Seorang tua yang cukup bijak dalam mennyelami dan mengarungi kehidupan, semua seakan sudah diatur sesuai dengan komposisi dan wadahnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sinergi.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sinergi.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sinergi.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sinergi.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sinergi.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sinergi.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sinergi.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sinergi.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sinergi.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sinergi.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sinergi.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sinergi.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sinergi.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sinergi.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=13&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergi.wordpress.com/2010/01/05/catatan-ringan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1bc86fb0f5aa6bfa57201a958630ccf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">octavero</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ibu, bayi dan dunia mereka</title>
		<link>http://sinergi.wordpress.com/2009/12/13/ibu-bayi-dan-dunia-mereka/</link>
		<comments>http://sinergi.wordpress.com/2009/12/13/ibu-bayi-dan-dunia-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 16:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>octavero</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[connection]]></category>
		<category><![CDATA[fragment]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[modern]]></category>
		<category><![CDATA[origin]]></category>
		<category><![CDATA[pieta]]></category>
		<category><![CDATA[pola]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[unseen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergi.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Belum genap 10 jam sejak kaki saya kena sliding takel dari lawan main futsal, masih saja bengkaknya terasa senut senut dan sedikit memaksa saya untuk berkeringat menuju lantai tiga tempat saya biasa melepas penat, kamar kos… yah sebuah kamar yang menurut saya sudah cukup besar untuk saya menempatkan beberapa barang praktis. Sebuah fan kecil yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=9&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belum genap 10 jam sejak kaki saya kena sliding takel dari lawan main futsal, masih saja bengkaknya terasa senut senut dan sedikit memaksa saya untuk berkeringat menuju lantai tiga tempat saya biasa melepas penat, kamar kos… yah sebuah kamar yang menurut saya sudah cukup besar untuk saya menempatkan beberapa barang praktis. Sebuah fan kecil yang seharga Rp. 75.000,00 saya tempatkan di sudut kamar, harapannya agar angin yang dihasilkannya bisa memenuhi seluruh ruangan, karena sadar benar bahwa kota ini sangat panas ketika hari cerah, apalagi kamar ini terletak di lantai tiga and <em>directly got the sunshine</em>… bahkan ketika malam pun, masih saja suhu udara belum beranjak turun dari 32 derajat <em>celcius</em>…. Luar biasa.</p>
<p>Sambil sesekali memijat kaki bengkak ini, mengolesinya dengan salep dan sesekali menengguk teh hangat yang baru saja saya buat, iseng iseng saya <em>browsing internet</em> di sebuah <em>laptop</em> 14” buatan <em>toshiba</em> keluaran september 2008 yang lalu dengan menggunakan <em>modem broadband HSPA (High Speed Packet Access)</em> dari salah satu operator selular yang mendominasi pasar selular di Indonesia. Dan cukup memaklumi bahwa saya mendapatkan kecepatan browsing yang ga se kencang paket paket lainnya, cos dengan <em>bundling</em> Rp.110000,00 per bulan terhitung sudah murah untuk sebuah paket yang <em>unlimited</em> dengan rata rata penggunaan 3GB. Yah….dilihat dari fungsinya juga sudah cukup untuk fungsional internet itu sendiri bagi saya… meski semakin lama semakin terasa ada pengurangan kuota besar kapasitasnya. Tapi bila dibandingkan dengan negara semacam korea maupun china… masih jauhlah bila dilihat dari segi perbandingan <em>speed actual download</em> dan <em>upload</em>, saya pernah sekali berkunjung ke korea dan sering sekali mengalami saat ketika download rate saya mencapai 1GB/s dan berjalan secara paralel di korea dan tidak dikenakan biaya, tidak seperti di Indonesia yang selama saya menggunakan <em>broadband</em> ini, hanya bisa maksimal di 135 Kb/s. itu aja tidak lama, hanya selama tiga detik setelah itu kembali ke rata rata 20 Kb/s. pertanyaan saya adalah, bagaimana bisa seperti itu? Ahhh….. tapi <em>it doesn’t matter anymore</em>. Toh semua hal yang saya bisa lakukan dengan internet tercukupi.</p>
<p>Sambil mendengarkan alunan lagu <em>“o holy night”</em> yang dengan lembut dinyanyikan oleh <em>celine dion</em> dilanjutkan<em> “don’t know why”</em> nya <em>norah jones</em>… mendadak saya merasa<em> jazzy</em> sekali hari ini, sebatang rokok saya sulut, tersentuh akan paduan nada holy night yang sangat harmonis… tiba tiba <em>fragment</em> demi <em>fragment </em>tentang semua hal yang saya alami , yang orang bilang “cinta”, muncul. Dan entah kenapa juga serasa hari ini tiap halaman di <em>facebook </em>saya kebanyakan bertema cinta entah dalam bentuk ungkapan, harapan, cerita, umpatan dan bahkan lewat telepon pun terdengar cerita sejenis.. ragam yang sangat luas. Satu <em>fragment</em> yang sangat menyentuh… seorang ibu yang sedang menyusui anaknya yang masih bayi.</p>
<p>Sebuah <em>fragment</em> yang menurut saya sesuatu yang luar biasa dalam sebuah ke-biasa-an. Ketika melihat seorang ibu yang sedang menyusui anaknya terlintas di benak saya <em>“pieta”</em> (patung bunda Maria yang sedang memangku jazad yesus pasca penyaliban) meskipun saya ga tahu pasti latar belakang <em>pieta</em> itu, namun satu hal yang pasti, yaitu, kasih seorang ibu. Betapa seorang ibu akan mati matian menjaga kesehatan dirinya demi sang anak. Disamping itu, sudah menjadi tanggung jawab sepenuhnya bagi seorang ibu untuk memberi makanan yang paling sehat untuk anaknya… dalam hal ini air susu ibu. Dalam dimensi yang lain, merupakan suatu bentuk hubungan atau ikatan yang luar biasa antara ibu dan bayinya. Dalam potret seorang ibu yang sedang menyusui anaknya tersirat makna bahwa seorang bayi memiliki karakter suci, polos, lemah dan tak berdaya sedangkan figur seorang ibu merupakan sosok yang sangat siap dalam mempersiapkan masa depan untuk anaknya. Tetapi saya lebih menangkap kesan bahwa ada nilai yang lebih dari sekedar itu, ada semacam <em>unseen connection between mother and her baby</em>, kadang saya merasa bahwa saat itu seorang ibu tengah membisikkan berbagai pesan dan nasihat agar kelak anaknya menjadi bibit yang lebih baik, tersirat juga ia tengah berharap bahwa suatu saat nanti bayinya tidak akan mengalami berbagai hal buruk yang pernah dialami dalam kehidupan ibunya, serta berharap kelak bayinya juga tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti yang pernah dialami ibunya.</p>
<p>Banyak hal terlintas dalam pikiran saya ketika saya <em>switch</em> pada sebuah potret kehidupan kita saat ini yang notabene sudah masuk dalam pola kehidupan modern, dimana begitu banyak hal yang dahulu mungkin dianggap tabu, kini sudah menjadi biasa. Berbagai <em>influence</em> masuk dengan bebasnya melalui berbagai media entah itu yang memiliki muatan positif maupun negatif tercampur secara <em>random</em> dalam bahasa yang mengaburkan, sehingga bila kita salah menafsirkan pun akan berakibat sangat fatal. Perkembangan teknologi dari waktu ke waktu yang semakin cepat seiring dengan tingkat kemudahan arus informasi kita terima secara mentah maupun dengan pengantar, disini pula seorang ibu mau tidak mau harus siap untuk menyiapkan anaknya menghadapi persoalan dunia yang semakin kompleks.</p>
<p>Tetapi ketika pikiran saya kembali pada fragment ibu menyusui anaknya, dan secara visual mengamatinya dengan seksama, semua menjadi tersapu <em>back to origin</em>, begitu bebasnya mereka dari segala keterpengaruhan dunia, yang ada sepertinya hanyalah mereka berdua… yah…. Sang ibu dan jabang bayi. Bahkan ketika mereka berada di tengah kerumunan orang yang jamak pun akan selalu terlihat bahwa mereka berdua memiliki dunia sendiri, dengan sendirinya segala pengaruh luar tak akan pernah bisa mencari celah untuk masuk dan menginterupsi dunia mereka. Sebuah kesatuan yang tak bisa dipisahkan.</p>
<p>Salah satu yang indah pada waktunya… dan senyum saya muncul untuk yang kesekian kalinya&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">Kudus 13/12/09</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sinergi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sinergi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sinergi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sinergi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sinergi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sinergi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sinergi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sinergi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sinergi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sinergi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sinergi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sinergi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sinergi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sinergi.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=9&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergi.wordpress.com/2009/12/13/ibu-bayi-dan-dunia-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1bc86fb0f5aa6bfa57201a958630ccf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">octavero</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Essence of survive</title>
		<link>http://sinergi.wordpress.com/2009/12/12/essence-of-survive/</link>
		<comments>http://sinergi.wordpress.com/2009/12/12/essence-of-survive/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 18:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>octavero</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>
		<category><![CDATA[flashback]]></category>
		<category><![CDATA[legitimasi]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[pengunjung]]></category>
		<category><![CDATA[survive]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergi.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Sekali lagi mencoba mengurai hal yang sangat jarang dipikirkan oleh orang orang pada umumnya. Hmm… suatu waktu saya pergi ke sebuah restoran ditemani seorang teman yang sudah saya kenal akrab for ages…. Membaca daftar menu yang telah tersedia di meja makan… dan finally… diputuskan beberapa menu yang kami setujui bersama… Selama menanti makanan tiba, mata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=6&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekali lagi mencoba mengurai hal yang sangat jarang dipikirkan oleh orang orang pada umumnya. Hmm… suatu waktu saya pergi ke sebuah restoran ditemani seorang teman yang sudah saya kenal akrab <em>for ages</em>…. Membaca daftar menu yang telah tersedia di meja makan… dan <em>finally</em>… diputuskan beberapa menu yang kami setujui bersama…</p>
<p>Selama menanti makanan tiba, mata saya selalu bergerilya pada hal hal yang menurut saya menarik… sesekali mengamati perilaku orang orang yang dengan bergantian datang dan pergi. Beberapa pengunjung datang dengan perilaku yang saya kurang setuju…</p>
<p>Pernahkah kita berpikir, selagi kita menyantap makanan yang terhidang dengan lezatnya, dibaliknya selalu ada kehidupan yang terbunuh?? Karena hal ini sangat dekat kaitannya dengan peribahasa “nasi sudah menjadi bubur”…</p>
<p><em>Flashback</em> pada  dua puluh tahun yang lalu ketika saya masih kanak kanak… Dimulai ketika saya minta dibelikan ayam goreng yang sebenarnya pada waktu itu perut saya juga telah kenyang, kemudian dibelikan. Setelah ayam goreng itu saya terima, saya santap.. ternyata rasanya kurang enak… rasanya terlalu asin… dan akhirnya diam diam saya buang ke tempat sampah. Kebetulan yang membelikan ayam goreng saya tadi adalah salah satu karyawan paman saya namanya pak mizan, seorang tukang bangunan yang saat itu ada proyek pembuatan patung dengan skala yang cukup besar. Setelah ayam tadi saya buang, pak mizan bertanya pada saya..”lho mas… sudah selesai to makannya? Ko cepet banget?” trus saya jawab…”lha ayamnya ga enak pak… asin banget.. jadine ya ga tak habisin…tak buang ke tempat sampah” tanpa basa basi pak mizan buru buru mengais kembali ayam goreng tadi membawanya ke dapur, dibersihkan kembali… diracik dan diberikan pada anjing piaraan saya. Sambil tersenyum dia mengatakan pada saya “mas….ayamnya sudah mati… ini tak kasihkan anjingmu biar ayam e matinya ga sia sia”. Dan itu terekam dalam memori saya <em>for years.</em> Dan sejak saat itu.. tiap saya makan selalu habis dan sesuai porsi kapasitas lambung saya. Dan tentu saja tulang tulang sisa tetap tidak saya makan..kecuali tulang lunak haha!</p>
<p>Kembali pada muara catatan ini, pasti sebagian besar dari kita pernah menyaksikan, bahkan mengalami sendiri makan tidak habis, pernah juga saya melihat seseorang memesan makanan dengan porsi standard dan baru tiga suap ia telah berhenti memakannya meski makanan yang ia santap tergolong enak. Tidak pernahkah mereka berpikir untuk memesan porsi yang sesuai dengan kapasitas perutnya sehingga tidak perlu menyisakan dan membuat suatu kehidupan yang terbunuh menjadi sia sia..</p>
<p>Kadang kita tidak menyadari bahwa kebiasaan dalam pola hidup manusia membuat kita cenderung melupakan esensi bertahan hidup itu sendiri…belum lagi bila kita sempat berpikir bahwa dibelahan bumi lainnya ada Negara seperti <em>ethiophia</em>, sebutir telur sudah merupakan anugerah yang kadang sebutir dibagi empat untuk lauk empat orang. Mungkin orang bilang jaman sudah berubah sehingga mengharapkan permakluman pada perilaku manusia yang cenderung ingin dibenarkan… tapi bagi saya <em>bullshit</em>! Kehidupan itu sudah terenggut dengan sia sia!</p>
<p>Note yang saya tulis ini hanya sekedar bersifat mengingatkan saja pada esensi kehidupan dan berusaha mengembalikan keseimbangan kehidupan, bukankah sebenarnya tidak susah untuk menyesuaikan porsi makan kita pada kapasitas lambung dalam perut kita? Bukankah kita dikaruniai lidah untuk berbicara? Bila kita tidak tahu, bukankah kita bisa bertanya?</p>
<p>Tapi selama pengamatan saya, nampaknya unsur malu bertanya dan gengsi serta sedikit bumbu mempertontonkan kesombongan, wibawa, legitimasi…memperjelas status lebih unggul …entah dalam hal unggul ekonomi maupun lainnya masih menjadi salah satu faktor penyebab yang turut menyusun alasan dibaliknya, disamping faktor sudah kenyang, kotor, maupun faktor faktor diluar perkiraan lainnya.</p>
<p>Yah… semoga saja semakin hari semakin bertambah orang yang sadar akan <em>essence of survive</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sinergi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sinergi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sinergi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sinergi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sinergi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sinergi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sinergi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sinergi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sinergi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sinergi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sinergi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sinergi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sinergi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sinergi.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=6&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergi.wordpress.com/2009/12/12/essence-of-survive/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1bc86fb0f5aa6bfa57201a958630ccf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">octavero</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senyum seorang tukang bersih bersih</title>
		<link>http://sinergi.wordpress.com/2009/12/09/senyum-seorang-tukang-bersih-bersih/</link>
		<comments>http://sinergi.wordpress.com/2009/12/09/senyum-seorang-tukang-bersih-bersih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 16:21:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>octavero</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>
		<category><![CDATA[bersih]]></category>
		<category><![CDATA[institusi]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[mushala]]></category>
		<category><![CDATA[senyum]]></category>
		<category><![CDATA[stm]]></category>
		<category><![CDATA[teras]]></category>
		<category><![CDATA[tukang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sinergi.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini saya akan bercerita tentang sebuah potret kehidupan yang mungkin sudah jauh dari hirauan orang, yang tak tersorot oleh kamera manusia yang sudah mulai egois. Sebuah potret kehidupan nyata dari seorang karyawan harian yang bekerja sebagai buruh pabrik di salah satu perusahaan yang cukup tersohor di Indonesia. Sebut saja iwan, lulusan STM (Sekolah Tinggi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=3&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini saya akan bercerita tentang sebuah potret kehidupan yang mungkin sudah jauh dari hirauan orang, yang tak tersorot oleh kamera manusia yang sudah mulai egois. Sebuah potret kehidupan nyata dari seorang karyawan harian yang bekerja sebagai buruh pabrik di salah satu perusahaan yang cukup tersohor di Indonesia. Sebut saja iwan, lulusan STM (Sekolah Tinggi Mekanik) di suatu daerah di jawa tengah  &lt;maaf, detail daerah dan sekolah maupun nama saya samarkan untuk menjaga nama baik personal maupun institusi yang bersangkutan&gt;. Rutinitasnya di pabrik dan intensitas yang di lakukannya di pabrik membuat saya mengacungi jempol untuk keseluruhan pribadinya. Pribadi yang sederhana, tidak banyak mengeluh, seorang pendiam juga ramah.</p>
<p>Physically, orangnya biasa biasa saja bahkan lebih cenderung mirip seorang pemuda umur dua puluhan yang memiliki model kontur wajah seperti wajah wajah orang dari dataran tinggi / pegunungan di Indonesia. Perawakannya standar, tinggi 162-164cm dengan postur tubuh yang kurus tapi berisi sehingga membuatnya tampak tinggi. Untuk masalah fisik tidak akan saya ceritakan lebih lanjut. Dari antara  jam 07.00-08.00 dia sudah harus masuk ke kantor kantor satu departemen yang notabene ada dua bagian, dan terbagi dalam lima ruang kerja termasuk ruang meeting. Dua ruang ada di lantai bawah bagian produksi dan tiga lainnya ada di lantai atas dan masing masing ruang terhubung. Tiap pagi iwan dengan rajin membersihkan semua ruang itu selama sejam, karena diatas jam 08.00 aktifitas kantor sudah dimulai, termasuk pula pel, menyapu, membersihkan property dengan kemoceng, mengharumkan ruangan, membuang sampah, hingga pukul 08.00 keadaan dan kualitas kebersihannya akan selalu sama dari hari ke hari, dan ia berlakukan aturan itu untuk semua ruang. Pasca 08.00 ia akan berpindah ke toilet, yang mana ada empat toilet total yang harus ia selesaikan selama dua jam, dan aturannya tetap sama, keadaan dan kualitas kebersihan yang sama dari hari ke hari. Pasca 10.00 ia harus melakukan proses pembersihan lantai produksi termasuk pel dan menyapu serta pembersihan debu yang bila diukur akan sebesar empat kali lapangan badminton atau futsal belum lagi di lantai produksi itu sudah dihuni oleh beberapa mesin berukuran besar yang total ada 13 buah mesin besar dan  beberapa mesin kecil. Fiuh…..!!! luar biasa!! Dan itu ia lakukan setiap hari hingga jam 16.00.</p>
<p>Mungkin bila kita sendiri yang turun tangan, untuk area sebesar itu, dan untuk detail pekerjaan yang se-rajin dan se-rapi itu, akan membutuhkan waktu dua hari kerja.</p>
<p>Ada beberapa hal yang menurut saya terasa janggal, salah satunya adalah background pendidikan. Seorang lulusan STM yang bekerja di pabrik dan memiliki job sebagai tukang bersih bersih???? Sedangkan rekan rekan seangkatan iwan yang juga bekerja di pabrik yang sama, berpredikat sebagai operator mesin, beberapa ada di bagian gudang, setidaknya memilki level pelaksana dan sesuai dengan bidangnya. Tapi tampaknya aturan kesesuaian tak lagi berlaku di pabrik ini. Pekerjaan bersih bersih pun seharusnya bisa dilakukan oleh orang yang tidak bersekolah, lalu yang menjadi pertanyaan adalah “untuk apa bekal teknik yang selama ini ia pelajari di STM???” mengingat bahwa ia bekerja di salah satu perusahaan swasta yang cukup terpandang yang sudah semestinya tidak asing dengan “the man at the right place” am I right?? Setidaknya ia bisa ditempatkan di bagian yang lebih proper.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Teras mushala</strong></p>
<p>Yah…. Di teras mushala…. Tiap jam istirahat, seorang iwan duduk menyendiri di pojokan dan sesekali tertawa kecil, mungkin karena ia merasa senang bisa memiliki sebuah hp baru merk nokia type 2626. Tetapi ketika segerombol rekan rekan operator mesin datang dan turut bersantai ria di teras itu, ekspresi wajahnya seketika berubah seperti langit biru yang tiba tiba mendung tetapi masih tetap dengan senyum keramahan yang mungkin terkesan sedikit dibuat buat. Dan akhirnya ia memilih untuk meninggalkan teras mushola untuk mencari tempat lain bersama teman teman yang menurutnya lebih sekelas. Saya tidak tahu apa yang telah terjadi di teras itu, tetapi hipotesa saya, iwan merasa minder. Dan bila ia bertemu dengan rekan rekan wanita muda ,  ketidak pedeannya selalu ia tutupi dengan senyum pada siapa pun itu… karena sebagian besar wanita operator tersebut mungkin merasa enggan untuk mengajak bicara apalagi bertegur sapa, tetap saja ia pasang tampang tersenyum. Dan itu selalu saya lihat pada waktu jam istirahat ketika saya ingin pup di toilet. Tetapi diluar itu semua ia mampu mengkondisikan dirinya terhadap lingkungan kerjanya saat ini tanpa perlu lagi memperdulikan background pendidikannya dahulu, selalu ada senyum kecil dari bibirnya setiap beraktifitas. Sekotor apapun pekerjaannya dia tetap senyum. Luar biasa!! Yah …. di teras mushala ini … selalu sempat saya rekam dalam memori saya ekspresi dibalik senyumnya… yang mungkin tak pernah tertangkap oleh orang orang yang tak memperhatikan. Mungkin dalam pikirannya ada banyak kecamuk yang membabi buta… dan tentu saja tetap akan selalu diredam oleh…  bahwa ia harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya… dan mau tidak mau ia harus menikmati apapun pekerjaan yang saat ini ia jalani… bukan begitu?? Akumulasi dari semua train of thought di pikirannyalah yang membuahkan senyum di bibirnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sinergi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sinergi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sinergi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sinergi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sinergi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sinergi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sinergi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sinergi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sinergi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sinergi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sinergi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sinergi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sinergi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sinergi.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=3&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergi.wordpress.com/2009/12/09/senyum-seorang-tukang-bersih-bersih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1bc86fb0f5aa6bfa57201a958630ccf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">octavero</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Halo dunia!</title>
		<link>http://sinergi.wordpress.com/2009/11/25/Halo-Dunia/</link>
		<comments>http://sinergi.wordpress.com/2009/11/25/Halo-Dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 18:34:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>octavero</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=1&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sinergi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sinergi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sinergi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sinergi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sinergi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sinergi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sinergi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sinergi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sinergi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sinergi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sinergi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sinergi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sinergi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sinergi.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sinergi.wordpress.com&amp;blog=10675922&amp;post=1&amp;subd=sinergi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sinergi.wordpress.com/2009/11/25/Halo-Dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1bc86fb0f5aa6bfa57201a958630ccf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">octavero</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
